terali yang gundah mengalun rantainya
meregang jiwa tak ada jejak
sesali raga yang bergumam lebat
sisihkan tangis dengan terus penasaran
lelapkan takbir pada singgasana nurani
tersampaikan..
pasti..
lalu merundung menunduk membungkuk
rinjani diseberang sana
seolah kelam yang bercahaya
rengkuhkan sosok tanpa bayang
brutal dan tak berdaya
kalibrasi dari semua
hanya angan dan lebam saja
tanpa iya dan baiknya
rahasia tanpa syarat
retakkan belenggu yang terkais atap
aku terbagi terkotak terurai
aku menyatu
jika mimpi . . .